Masa Waktu dan Perkembangan Pemerolehan Bahasa Pertama
Perkembangan pralinguistik terjadi ketika orang tua (terutama ibu) dan anak saling berinteraksi. Misalnya, jika ibu banyak berbicara, anak cenderung diam, dan sebaliknya. Ini berlaku tidak hanya untuk percakapan, tetapi juga untuk gerakan anak. Contohnya, ketika ibu tertawa, anak juga cenderung tertawa. Meskipun tidak selalu terjadi secara bergiliran secara murni, pola ini umum terjadi dalam interaksi tersebut.
Fase tangis menjadi reda merupakan bagian penting dari perkembangan pralinguistik anak. Saat ini, anak sedang mengembangkan konsep dirinya, membedakan diri dari objek, orang lain, dan memahami hubungannya dengan objek serta tindakan. Ini adalah langkah penting dalam perkembangan bahasa dan pemahaman diri anak.
Fase tangis menjadi reda merupakan bagian penting dari perkembangan pralinguistik anak. Saat ini, anak sedang mengembangkan konsep dirinya, membedakan diri dari objek, orang lain, dan memahami hubungannya dengan objek serta tindakan. Ini adalah langkah penting dalam perkembangan bahasa dan pemahaman diri anak.
Pada masa perkembangan pralinguistik ini, anak mengembangkan konsep dirinya. Ia berusaha membedakan dirinya dengan objek, dirinya dengan orang lain, dan juga hubungannya dengan objek serta tindakan. Jadi, ketika anak melihat ibunya memainkan boneka, tebersitlah pada pikirannya bahwa di sana ada pelaku (yaitu ibunya sebagai agen), ada tindakan memainkan boneka, dan ada boneka itu sendiri, selain juga ada diri anak itu sendiri.
Setelah tahap perkembangan pralinguistik, pemerolehan bahasa anak menginjak ke tahap satu kata. Pada tahap ini anak terus-menerus berupaya mengumpulkan nama benda-benda dan fenomena saja yang ia jumpai. Lazimnya, kata-kata yang pertama diperolehnya pada tahap ini adalah kata yang menyatakan perbuatan, seperti makan, minum, pergi, tidur, duduk, kata sosialisasi, seperti hai, halo, kata yang menyatakan tempat, seperti di sini, sana, situ, dan kata yang menyatakan pemerian, seperti panas, dingin, besar, kecil.
Pada tahap ini, cakrawala anak terhadap nomina sudah tidak sempit lagi. Kadang-kadang anak memakai nomina untuk menyatakan benda sebagai objek misalnya nasi, susu, tetapi kadang-kadang nomina juga digunakan untuk menyatakan orang sebagai pelaku misalnya mama, papa. Perhatikan Tahap satu kata ini pada anak, adik, atau kemenakan Anda!
Brown, et al. (1973) menyatakan bahwa panjang ucapan anak kecil merupakan indikator atau petunjuk perkembangan bahasa yang lebih baik daripada usia kronologisnya atau urutan usianya. setiap tahap ada Loncatan Atas (LA), yaitu apa-apa yang secara khusus merupakan ucapan terpanjang (dalam morfem) sebagai rentangan PUR atau sebagai butir-butir sentral.
Ada kajian yang memperlihatkan bahwa terdapat persesuaian satu sama lain, yaitu semua mencakup eksistensi dan noneksistensi yang sering disebut juga penamaan dan rekurensi. Selain itu, kombinasi pun mengekspresikan atribut objek dan asosiasi objek dengan orang. Ibu si anak sedang sibuk menanak nasi. Anak melihatnya dan berkata: Mama nasi. Dari contoh Pola 3: Agen + Objek terlihat pentingnya konteks dalam menginterpretasikan makna ucapan anak-anak itu. Dari contoh di atas, terlihat bahwa anak pada tahap I telah diperikan sebagai sosok yang dapat berbicara mengenai objek dan orang, mengenai eksistensi, noneksistensi, dan rekurensinya.
Pada masa tahap II PUR ditandai oleh ekspresi kebahasaan dengan membuat kalimat-kalimat yang lebih panjang. Terkait dengan itu, ada 3 hal penting yang dapat diamati, yaitu:
1. kemunculan morfem-morfem gramatikal secara inklusif dalam ujaran anak;
2. pengartian atau penyambungan bersama-sama hubungan dua hal tersebut;
3. perluasan istilah dalam suatu hubungan/relasi.
Periode pembedaan atas dua bunyi dapat dikenali selama tahun pertama yaitu periode vokalisasi prameraban dan periode meraban.
Terkait dengan „baby talk‟ ini Clark & Clark (1977) menyatakan bahwa:
1. anak-anak mengenali makna-makna berdasarkan persepsi mereka sendiri terhadap bunyi kata-kata yang didengarnya;
2. anak-anak menukar atau mengganti ucapan mereka sendiri dari waktu kewaktu menuju ucapan orang dewasa;
3. apabila anak-anak mulai menghasilkan segmen bunyi tertentu, misalnya bunyi /s/, hal itu menjadi perbendaharaan mereka.
Sekarang, marilah kita beralih ke perkembangan ujaran kombinatori. Perkembangan ujaran kombinatori anak-anak dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu:
1. perkembangan negatif/penyangkalan,
2. perkembangan interogatif/pertanyaan,
3. perkembangan penggabungan kalimat, dan
4. perkembangan sistem bunyi.
Ada tiga tipe struktur interogatif yang utama untuk mengemukakan pertanyaan yaitu sebagai beriikut.
1. Pertanyaan yang menuntut jawaban ya atau tidak, misalnya: Pernahkah Kamu makan oncom? Bukumukah ini?
2. Pertanyaan yang menuntut informasi, misalnya: Apa yang kau lihat disana? Kapan kita gajian?
3. Pertanyaan yang menuntut jawaban salah satu dari yang berlawanan(polar), misalnya Kamu tanya sekarang atau besok? Dia berikan buku atau bulu?
Pada masa sekolah anak mengembangkan dan memakai bahasa secara unik dan universal. Pada saat itu pula, anak menandai atau memberinya ciri sebagai pribadi yang ada dalam masyarakat dan lingkungannya. Perkembangan bahasa pada masa sekolah dapat dibedakan dengan jelas dalam tiga bidang, yaitu struktur bahasa, pemakaian bahasa, dan kesadaran metalinguistik.
1. Dalam bidang struktur bahasa, anak memperluas dan menghaluskan terus-menerus komponen semantik dan sintaksis sampai ke taraf yang lebih kecil yaitu fonologi.
2. Dalam bidang pemakaian bahasa, anak meningkatkan kemampuan menggunakan bahasa secara lebih efektif, dapat melayani aneka fungsi dalam situasi-situasi komunikasi yang beraneka ragam. Dalam bidang kesadaran metalinguistik, anak bertumbuh kemampuannya untuk memikirkan, mempertimbangkan, dan berbicara mengenai bahasa sebagai sandi atau kode formal.
Komentar
Posting Komentar