Langsung ke konten utama

π— π—˜π—‘π—šπ—¨π—Ÿπ—”π—¦ 𝗔π—₯π—§π—œπ—žπ—˜π—Ÿ

 Artikel yang berjudul,"Guru merdeka mengajar berani bertanya : apa yang perlu saya perbaiki di kelas saya?"

Oleh:Erlina Anriani Siahaan seorang duta literasi kota Pematang Siantar. 

John C. Maxwell dalam bukunya Good Leaders ask Great Questions menuliskan: Good leaders ask great questions that inspire others to dream more, think more, learn more, do more, and become more.

Meski ini adalah buku yang bukan dikhususkan kepada guru, tetapi jauh lebih dari itu, buku ini ditujukan sebagai pondasi untuk pemimpin sukses. Ini adalah sebuah tantangan terbuka kepada setiap guru sebagai pemimpin pembelajaran di ruang-ruang kelas. Bagaimana guru semakin menginspirasi muridnya, mengajak mereka mampu berpikir kritis, menjadi pelaku yang aktif, dan menjadi murid merdeka yang mampu berpikir holistik.

Seperti yang diutarakan Bukik Setiawan, Ketua Yayasan Guru Belajar, ruang kelas tidak sekadar ruang belajar, tetapi harus menjadi ruang bernyawa yang mampu menumbuhkembangkan murid merdeka—yang tumbuh berkelanjutan melampaui ruang kelas.

Saya mengutip cuplikan pidato beliau:

Ruang kelas bukan untuk menjejalkan pengetahuan. Ruang kelas bukan sebatas ruang bagi guru untuk menjalankan pekerjaan. 

Kelas yang demokratis dan menghargai keragaman akan membangun kebiasaan murid untuk bersepakat dalam perbedaan. Ruang kelas yang peduli pada fenomena dan kebutuhan komunitas akan mengembangkan murid yang berempati dan peduli pada kelestarian kehidupan. Ruang kelas yang segala kegiatannya relevan sebagai solusi kehidupan akan membangun pemikiran murid untuk menjadi pemimpin dan penggerak aksi perubahan. Tumbuh berkelanjutan berarti murid menjadi pemimpin tidak hanya asyik di ruang kelas, tetapi tumbuh berkelanjutan melampaui ruang kelas. [1]


Bertanya dan Mendengarkan, Kecakapan yang Harus Dimiliki Guru

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 pasal 8, setidaknya ada 4 kompetensi yang harus dimiliki guru, yaitu meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi pedagodik, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Bertanya dan mendengarkan adalah kemampuan yang mendukung guru dalam menghidupkan keempat kompetensi tersebut. Tanpa bertanya dan mendengarkan, guru tidak akan mampu memahami murid secara mendalam. Pemahaman akan kondisi latar belakang murid, kebutuhan belajar apa yang tepat, pembelajaran apa yang harus menjadi pilihan, serta aktualisasi potensi murid yang memerlukan komunikasi one-in-one atapun dalam grup—yang selalu bermula dan berlangsung dalam lingkup komunikasi aktif dan menyenangkan. Ya, guru harus memiliki sikap inklusif, berkomunikasi santun, empatik, dan objektif.


Pembelajaran dalam ruang kelas, bagaimanapun harus juga merupakan interaksi coaching di mana guru adalah coach dan murid sebagai coachee. Guru sebagai coach diharapkan terpercaya dan menciptakan suasana trust (dapat dipercaya coachee/murid). Dengan belbagai situasi dan kondisi apa pun yang dicerminkan murid, guru diharapkan mampu menumbuhkan murid yang memiliki growth mindset dan motivasi dari dalam diri; mendidik anak tanpa memarahi, tanpa melarang, tanpa menyuruh, dan tanpa menasihati.Sangat klise jika kita mengatakan dunia pendidikan kekurangan inovasi. Sebaliknya, yang sulit justru konsistensi dalam menjalankan inovasi tersebut. Berbicara tentang konsistensi, tentu ini berkaitan dengan komitmen pengimplementasian dengan terus melakukan perbaikan seiring prosesnya dan terus berefleksi dalam menunjukkan hasil jangka panjang bagi murid.Guru sebagai coach juga sebagai pemimpin pembelajaran, harus mampu memberikan yang terbaik sesuai dengan kebutuhan belajar murid yang tentu saja tidak sama satu sama lain. Refleksi menjadi salah satu babak yang penting dalam menciptakan kelas yang berpihak kepada murid. Berpihak kepada murid, artinya pembelajaran berlangsung tidak semata berpusat kepada murid, tetapi juga benar-benar menciptakan suasana menyenangkan bagi murid. Refleksi akan sangat tidak fair jika hanya ditujukan kepada murid.

Rasa “marah” atau “kesal” dan sebagainya—terkait emosi-emosi negatif, pasti pernah dialami oleh setiap guru dalam menghadapi murid yang beragam. Apalagi pasca pandemi Covid-19 yang mengusung learning loss yang cukup akut. Ketika murid mengungkapkan pujian terhadap gurunya sekaligus hal yang ingin diperoleh dari gurunya, adalah indikasi bahwa pembelajaran yang bermakna telah berlangsung di ruang kelas. Guru merdeka sanggup melakukan refleksi seekstrim itu demi kelas yang jauh lebih bermakna. Tidak sekadar bertanya apa yang murid butuhkan, apakah di kelas murid memperoleh kebutuhan tersebut, tetapi juga sejauh mana guru mampu membersamai pembelajaran bermakna bagi murid, apakah murid bahagia di kelasnya, dan apa yang harus ia perbaiki di kelas hari ini demi kelas yang jauh lebih menyenangkan dan bermakna di ruang-ruang kelas berikutnya.

Pertanyaan serupa pernah dituliskan Goenawan Mohamad untuk menyoroti politik—tentu subjeknya digantikan dengan “pendidikan”, dan Plato dengan syarat axiomatanya menyebutkan syarat ketujuh untuk berkuasa adalah “pilihan” yang ditafsirkan oleh Ranciere bahwa siapa saja mungkin terpilih, persaingan dan perebutan terbuka, dan politik sejatinya tak pernah berhenti.

Kelebihan artikel :

1.Artikel ini sangat bagus untuk menjadi pedoman atau referensi untuk tenaga pengajar terutama untuk calon-calon tenaga pendidik.

2. Dalam artikel tersebut langsung dicantumkan referensi nyata dari beberapa tokoh atau subjek yang dijadikan motivasi yang menyesuaikan ke topik dalam penyusunan artikel tersebut. 

Kekurangan artikel :

1. Dalam artikel tersebut banyak ditemukan kata-kata yang sulit dimengerti yang memungkinkan ada beberapa pembaca yang sulit dalam memahami isi artikel tersebut.

2.Dalam artikel tersebut penjelasan yang disampaikan penulis terlalu panjang. Hal ini memungkinkan pembaca merasa bosan dalam membaca artikel tersebut. Artikel tersebut tidak langsung merujuk ke inti-inti dari topik. 

Komentar