“Surat Untuk Nining” Karya Cicilia Anggraini
“Sekalian Bacakan surat ini untuk ibu dan Ewis. Agar tak perlu merepotkan dirimu di lain waktu, ajarilah Ewis baca tulis. Kelak kalian berdua bisa bergiliran membacakan surat Teteh di depan ibu. Ning, tak kurang satu bulan dari sekarang Teteh akan segera kirim uang, dititipkan di rekening Bu Lurah. Dari uang itu, sekolahkanlah Ewis. Kasihan bila tahun ini pun ia harus menunda sekolah hanya karena ibu belum beroleh kerja tetap. Bila ibu kembali diterima bekerja di rumah Bu ria, sampaikanlah kabar baik itu pada Teteh di dalam surat balasanmu nanti.”
Berawal dari sebuah kutipan yang saya ambil dalam cerpen ini, segi menarik pada cerpen tampaknya sudah sangat terlihat pada paragraf pertama. Cerpen yang berisi tentang sebuah surat dari seorang kakak yang sedang berada di negeri asing kepada adik-adiknya yang tinggal bersama ibunya di kampung halaman, membuat saya sebagai pembaca untuk berhenti sejenak, dan kemudian melanjutkan kembali pada saat membacanya. Mengapa demikian ? memahami hal-hal yang menarik pada cerpen ini, menurut saya sangatlah menguras fikiran karena hampir dari setiap paragraf banyak hal menarik yang diungkapkan dalam surat tersebut. Sedemikian kreatifnya sang pengarang menciptakan pencerita untuk bercerita kepada kita sebagai pembaca, sehingga wajar saja jika cerpen “Surat Untuk Nining” karya Cicilia Anggraini telah dimuat dalam majalah sastra Horison, pada bulan Agustus tahun 2011 lalu.
Kembali membahas paragraf utama pada cerpen tersebut. Pada umumnya, surat pribadi dimulai dengan menanyakan kabar atau sekedar basa-basi mengenai keadaan yang dikirimi surat. Tetapi ketika membaca surat pada cerpen ini, pengirim mengawali penulisan surat dengan kalimat yang langsung tertuju pada inti pembicaraan, yaitu ketika pengirim surat atau yang lebih akrab disapa dengan panggilan Teteh ingin mengirimkan uang kepada Ibu dan adik-adiknya tak kurang satu bulan dari penulisan surat. Yang membuat hal ini menarik adalah ketika paragraf-paragraf selanjutnya lebih bertele-tele dan menceritakan perjuangan kehidupan yang Teteh alami ketika berada di negeri asing.
Selanjutnya pada paragraf kedua cerpen, dalam surat itu Teteh membahas mengenai keadaan keluarganya yaitu ketika bapaknya yang memiliki istri baru, dan adiknya Ewis sering mendatangi rumah bapak dan istri barunya itu. Diceritakan bahwa kehidupan bapak dan istri barunya hidup dengan keadaan yang lebih layak dibanding keadaan istri pertamanya (ibu dari Teteh Mira, Nining, dan Ewis) terlihat pada kalimat “Tapi bila Ewis sendiri ingin pergi ke rumah mereka sebab di sana terdapat berlimpah makanan, apa boleh buat, ijinkanlah dia kesana.” pada paragraf ini, pencerita seolah menceritakan kepada kita kejadian nyata yang seringkali dialami. Seorang yang menjadi madu memiliki kehidupan yang lebih mapan dibanding istri yang di madu. Istri yang di madu harus berjuang susah-payah agar dapat menghidupi anak-anaknya. Hal ini terlihat pada kutipan kalimat yang menyatakan bahwa Ibu dari Mira sebagai seorang yang di madu harus berjuang agar dapat menghidupi anak-anaknya. Berikut kutipan kalimat yang menyatakan hal tersebut “Dari uang itu sekolahkanlah Ewis. Kasihan bila tahun ini pun ia harus menunda sekolah hanya karena ibu belum beroleh kerja tetap. Bila ibu kembali diterima bekerja di rumah Bu Ria, sampaikanlah kabar baik itu pada Teteh di dalam surat balasanmu nanti” hal ini menarik, karena mampu membuat kita sebagai pembaca terbawa pada suasana yang ada dalam cerpen tersebut, seolah-olah kita membaca surat dalam sebuah kehidupan nyata walaupun sebenarnya surat ini adalah sebuah cerpen yang hanyalah sebuah fiksi belaka.
Hal yang menarik dari cerpen ini yaitu menghadirkan sosok Teteh Mira yang bekerja dan berjuang keras sebagai TKI seolah-olah mewakilkan kejadian yang sebenarnya terjadi pada TKI-TKI di negeri asing sana.
Hal yang menarik selanjutnya pada cerpen ini terlihat ketika kalimat awal dan kalimat akhir pada paragraf ketiga, tokoh utama yang dalam hal ini ialah Teteh Mira menyebutkan dan menjelaskan dalam awal surat bahwa tidak ada ruginya ia tidak melanjutkan sekolah sampai tamat, sebab gajinya di negeri asing sama banyak dengan gaji bapak-bapak menteri. Dengan memberikan contoh seorang sarjana yang hanya menjadi pegawai negeri sipil bergaji tidak sepadan dengan bapak menteri. Kalimat tersebut dinyatakannya dengan kalimat “Kata Mama Flora, gajiku di sana sama banyak dengan gaji bapak-bapak menteri! Wah, tak rugi, bukan, kita tidak bersekolah sampai tamat ? Lihat saja si Irham anak sulungnya Pak Lurah itu. Jauh-jauh kuliah sampai ibukota, balik ke kampung hanya jadi pegawai negeri sipil. Memang dia pakai seragam rapi dan pantofel mengilap setiap hari, tapi apakah dalam sebulan ia telah dapat mengantongi uang puluhan juta (sebanyak gajinya bapak-bapak menteri)?”
Ketidak konsisten-an pemikiran Teteh Mira terlihat pada kalimat akhir masih pada paragraf ketiga pada kalimat berikut “Jangan cemas, Ning, kelak ketika uang di rekening Teteh menumpuk , kamu boleh lanjut ke SMA. Kemungkinan Teteh pun akan lanjut kuliah. Mau ambil fakultas ekonomi supaya nanti Tetehmu ini bisa jadi wanita karir yang bisa menumpuk lebih banyak uang di nomor rekening” ia mengatakan dalam surat itu pada Nining bahwa kelak ia pun akan melanjutkan kuliah agar menjadi wanita karir yang bisa menumpuk lebih banyak uang. Kita sebagai pembaca tentunya akan berfikir dan bertanya, untuk apa lagi Teteh Mira kuliah jika dengan bekerja dengan Mama Flora sudah dapat mengantongi uang sebanyak gaji bapak menteri ? dan pada kalimat awal pun ia telah mengatakan bahwa tidak ada ruginya ia tidak melanjutkan sekolah sampai tamat.
Penjabaran di atas merupakan sedikit pemaparan mengenai isi yang menarik pada cerpen. Hal lain yang menurut saya menarik ketika membaca keseluruhan dari cerpen karya Cicilia Anggraini yaitu cerpen ini merupakan cerpen yang berbeda dari cerpen yang biasanya. Cerpen ini berbentuk surat, sehingga pada saat membaca cerpen tersebut seolah-olah pembaca membaca sebuah surat. Padahal di akhir kalimat diingatkan kembali bahwa pembaca sedang membaca sebuah cerpen yang didalamnya terdapat sebuah surat dari Mira untuk ibu dan adik-adiknya.
Segi menarik selanjutnya pada cerpen ini yaitu ketika menyinggung negeri yang kaya, tetapi kekayaan tersebut hanya dimiliki oleh orang-orang yang disebut sebagai Mereka. Tetapi terdapat pula nasehat yang tersirat untuk menanggapi keadaan tersebut yaitu sebagai warga Negara yang baik tidak perlu salahkan siapa-siapa dan yang bertanggungjawab terhadap kehidupan manusia hanyalah manusia itu sendiri. Hal ini terdapat pada kutipan berikut “ Memang negeri kita kaya, Ning, tetapi bukankah kekayaan itu hanya dimiliki oleh mereka? Kamu kira-kira saja siapa mereka yang Teteh maksudkan. Teteh tak mau asal sebut. Takut andai mereka sama galak dengan Mama dan Mami. Terhadap dua orang itu saja sudah tak terukur besar ancaman yang mungkin Teteh dapat dari kesalahan berucap, apakah jadinya nanti bila Teteh pun berbuat salah kepada orang-orang yang Teteh sebut sebagai Mereka. Bila mereka marah pada Teteh, maka Teteh tak berani lagi menatap matahari esok pagi. Lagipula, Ning, kita tak perlu salahkan siapa-siapa. Bukankah kitalah yang paling bertanggungjawab atas nasib kehidupan kita sendiri? Hanya karena kita miskin bukan berarti kita pantas menghujat orang kaya, Ning. Itu namanya dengki. Bila sudah miskin pandai menghujat pula, kita akan semakin tak berarti.”
Kemudian, segi menarik lainnya yaitu terdapat pada akhir cerpen yang dibuat menggantung atas sebab-sebab kematian Mira selaku tokoh utama. Kita sebagai pembaca tentunya bertanya-tanya sebab-sebab kematian Teteh Mira ? apakah ia bunuh diri karena merasa dirinya telah dinodai oleh anak majikannya ? atau karena dibunuh ? dan yang mengetahui alasannya hanyalah pengarang yang begitu cermat serta kreatif dalam menyusun sebuah cerpen yang begitu menarik untuk di baca dan membuat pembaca menentukan sendiri sebab-sebab kematian Teteh Mira pada akhir cerita dari cerpen ini.
Pencerita pada cerpen pun di buat sedemikian menarik, karena ketika membaca cerpen ini seolah-olah terdapat dua pencerita yaitu Teteh Mira dan Nining. Hal ini jelas sekali dipaparkan ketika kita sebagai pembaca diposisikan membaca surat, seolah-olah Teteh Mira lah yang bercerita. Tetapi, pada saat membaca keseluruhan cerpen ini sebenarnya Nining-lah yang menceritakan surat tersebut. Hal ini terlihat pada kutipan kalimat berikut “ Ewis bertanya berapa jumlah uang yang kudapat dari kantong celana Teh Mira. Ini hanya surat, bukan uang. Masih kecil sudah mata duitan, kataku. Seorang petugas medis menegur kami karena menyentuh jenaah. Ewis mengkeret dan mulai menangis. Kami bergeming di dalam ambulans yang bertolak membawa kami dari bandara menuju rumah. Ibu belum siuman dari semaput.”
Salam oki saragih 😊
Komentar
Posting Komentar